Saturday, 18 March 2017

Praktek Memotong Kuku sesi #2


Assalamualaikum

Masuk challenge hari ke-7 (walaupun tugasnya dirapel sekalian di 2 hari terakhir menuju deadline, tapi dokumentasi tahapan skillnya udah dipreparin lebih dulu 😁). Entah kenapa tiba-tiba langsung punya mood untuk nulis dan selesain tugas ini.

So, kali ini kakak mau lanjutin praktek memotong kuku sendiri.

Kayaknya setelah dipikir-pikir, skill memotong kuku ini agak kecepetan materinya untuk kakak hmm. Tapi, karena sudah terlanjur saya masukkan dalam daftar skill yang ingin dilatihkan, trus anaknya pas ditawarin juga mau, ga nolak, malah happy, ya ga papa lah yaa, yang penting anak senang ibunya pun lanjut tenang bikin tugas πŸ˜‚

Eeh tapi, pas liatin kakak motong kuku sendiri, karena belum rapi, masih ada tajam-tajamnya terutama dibagian pinggiran kuku, dan kuku jari tangan kanannya yang bahkan belum bisa dipotong dengan benar. Saya jadi gemes sendiri pengen rapihin. Ujung-ujungnya saya rapihin lagi. Saya mintanya yang dipotong sebisanya kakak saja.

Kalau yang kemaren dia agak susah motong kuku di bagian jari manis, kelingking, dan semua jari tangan kanan, kali ini saya biarin dia mulai mengekseskusi semua kuku jarinya sesuka hati. Dan sekali lagi, se-bi-sa-nya.

Akhirnya, wujud asli hasil potongan kuku kakak sebelum dirapihin bunda, seperti ini.

Before (potong kuku sendiri)

Dan ini penampakan afternya.

After (dirapihin bunda)

Alhamdulillah, lumayan. Minimal selain belajar cara potong kuku sendiri, kakak bisa sekalian belajar tanggung jawab secara tidak langsung. Belajar tanggung jawabnya dimana? Dengan kakak menyelesaikan skill memotong kesemua jari kukunya (fix 10 jari, kalo kemaren kan 3 jari aja, selanjutnya saya lanjutin), walaupun masih jauh dari kata rapi, tapi bersyukur kakak sudah sangat responsible dengan prakteknya. Ada niat untuk mau menyelesaikan ke sepuluh kuku jari tangan, walaupun nanti akhirnya saya bantu rapihkan lagi πŸ˜†


#level2
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

Mengelompokkan Pasangan Warna


Assalamualaikum..

Masih dengan melatih tahap kemandirian kakak dalam hal mencocokkan warna. Seingat saya, kali itu saya ditarik paksa dengan tiba-tiba ke arah ruang tengah.

"Bunda, sini coba lihat!"

Dengan kaget dan penasaran, sayapun mengikutinya.

"Kakak lagi bikin ini" sambil nunjuk ke beberapa pegangan atau stik sedotan balon yang dijejerin dan dipasangkan dengan warna yang sama.

"Kemaren kata bunda, kakak masih belum bisa mencocokkan warna, nih ini buktinya kakak bisa kok!" dengan nada pamer dan mulut sedikit manyun.

"Ini kakak yang atur dan bikin sendiri? Bunda coba bikin acak dan kakak atur lagi boleh?" Tanya saya iseng. Bukan ga percaya sama anaknya sih, tapi pengen ngetes lagi aja hehehe.

"Hmm.. Oke, boleh" Ada sedikit nada kecewa sepertinya.

"Kalo gitu ga jadi deh, bunda percaya sama kakak" sambil senyum. "Sebentar bunda ambil hp dan foto lagi ya?"

"Okeeey yes!" seperti biasa, langsung riang dan semangat lagi.





Jadi sebelumnya kakak bukannya belum bisa mencocokkan atau mengelompokkan pasangan warna. Sudah bisa, tapi entahlah kadang untuk warna biru dan hijau masih sering ketukar. Apalagi pas ketemu warna tosca, nyebutnya pasti biru hehe. Masih bisa dimaklumi sih, karena untuk milah-milih warna, apalagi warna turunan seperti turqoise, magenta, dll, kita orang dewasa aja kadang ribet nyebutnya masuk warna apa πŸ˜‚

Tapi saya yakin, nanti kalo udah gedean dikit, kakak pasti sudah bisa tau dan mengelompokkan berbagai warna. Kita saja sebagai orang tua yang tidak sabaran, terlalu terburu-buru ingin anak menjadi lebih cepat tahu segalanya, padahal semua anak tumbuh dan kembangnya berbeda satu sama lain.


#level2
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

Friday, 17 March 2017

Mix and Match Baju Ala Kakak Aqeela



Assalamualaikum

Jadi tadi pas pulang sekolah, ada yang langsung nagih minta praktek soal matchingin baju.

"Bunda, kemarin kan katanya lagi punya tugas melatih kakak biar bisa tambah mandiri"

"Iya, terus?"

"Kapan mau praktekin kakak mix match baju sendiri bun? Kan sebenarnya kakak udah mulai tau"

Ternyata kakak sudah ga sabar mau praktek soal ini, karena waktu dikasih tau kalau bunda punya tugas yang perlu bantuannya, anaknya sih langsung senang bahkan ga sabar. Tapi karena kemaren-kemaren bundanya lagi ga mood untuk nulis, jadinya ketunda lama. Maaf ya kak 😁

Nah, akhirnya setelah menunggu 3 minggu lamanya (sampai anaknya hampir lupa, pas diingetin lagi, eh malah langsung nagih ga sabar πŸ˜‚)

"Ya sudah, silahkan kakak pilih mau pakai yang mana, nanti baju sama celana di cocokin, bunda mau lihat"

Sambil nyusuin adeknya, saya perhatikan kakak sibuk pilah pilih baju. Ada beberapa baju yang dipilih, tapi nyari celana yang cocok warnanya, agak kesulitan karena ga semua baju dan celananya tersimpan di lemari pakaian kamar kami, sebagian ada di lemari kontainer bawah. Jadi saya ngasih saran ambil yang ada aja, biar kakak ngambilnya ga bolak balik ke bawah.

Dan akhirnyaaa
Taraaaaa!
Inilah baju pilihan kakak



Lumayan, matching atasan dan bawahan, karena di bajunya ada sedikit warna hitam, jadilah bisa dipadupadankan dengan legging hitamnya.



Dan karena tugas ini harus ada dokumentasinya, pas difoto kakak sekalian bergaya ala-ala model profesional πŸ˜‚


#level2
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

Thursday, 16 March 2017

Melatih Kemandirian Anak (Potong Kuku Sendiri)



Assalamualaikum..

Yeaaay hari ini baru mau mulai mengerjakan game level 2 dari kelas bunda sayang. Telat banget ya bikinnya?! 😁
Entahlah, menunggu mood untuk menulis itu ga gampang lho, apalagi untuk ngerjain tugas yang seperti ini. Saya inginnya menerjakan tugas ini dengan betul-betul, bukan asal-asalan, apalagi menyangkut cara ngedidik anak, jadi emang harus dilakukan dengan benar.

Jadi, seperti sebelumnya, game ini berisi tantangan 10 hari dengan materi Melatih Kemandirian.

Berhubung kakak Aqeela banyak yang sudah bisa dilakukannya di umur 4.7 tahun ini, jadi berdasarkan age appropriate chores umur 4-5 tahun, kakak sudah bisa melakukan hampir semua tugas yang bisa dilakukan anak seusianya dengan benar. Seperti mandi dan cebok sendiri, bantu ngelap meja makan selesai makan, melipat baju, merapikan mainan, membantu merapikan tempat tidur, dll. Makanya pas pertama agak bingung mau nulis melatih kemandirian kakak yang mana, karena alhamdulillah dari umur 2 tahunan, saya mulai membiasakan kakak untuk bisa melakukan sesuatu sesuai kemampuannya sendiri, which means selalu memberikannya kesempatan untuk melakukan hal yang dia mau. Tapi tentunya dalam pengawasan kami. Karena saya dan suami bukan tipe orang tua yang suka ngelarang anak mau ini mau itu, mungkin dari sinilah kemandirian kakak mulai terbentuk dengan sendirinya.

Saat ngelatih potty/toilet training pun alhamdulillah bukan sesuatu yang gimana banget, karena saat mau ngelatih hal itu, saya sudah mengingatkan sebelumnya ke kakak, bahwa nanti pas umur 3 tahun kakak ga akan pakai popok lagi, dan kalau mau pipis, bilang ke bunda dan nanti pipis di toilet atau kamar mandi. kata-kata ini saya sounding terus menerus bahkan sebelum dia tidur, dan alhamdulillah selama toilet training berjalan, kakak tidak pernah ngompol. O ya, kayaknya pernah ngompol, tapi justru setelah toilet training selesai, pas udah 3 tahunan lebih kakak pernah mimpi pipis dan pas kebangun langsung tiba-tiba bangunin saya dan minta maaf ngomong kalo ngompol sambil nangis, jadilah malam itu sekitar pukul 3 pagi saya beresin ompol kakak, sambil mandiin dia karena ompolnya basah sampe ke punggungnya 😁

Anaknya ga masuk angin dimandiin tengah malam? Alhamdulillah gak. Karena airnya ga dingin, hangat, jadinya kakak malah berasa fresh dan masih nyempetin diri untuk main lagi, baru sejam kemudian ngantuk dan akhirnya tidur lagi. Kalo ga percaya cobain deh, mandi jam segitu, fresh banget kan? Walaupun nanti setelahnya bisa ngantuk lagi hahaha.

Nah untuk challenge kali ini, berhubung diberikan tugas minimal melatih 4 skill kemandirian selama 10 hari, maka yang ingin saya beri latihan ke kakak;
1. Memotong kuku sendiri (seminggu maksimal 2x, senin dan jumat)
2. Memakai jilbab sendiri (setiap kali berangkat sekolah) ini biasanya masih sering dibantu pakaikan sama saya atau omanya
3. Mencocokkan warna (matchingkan baju, kaos kaki, dll)
4. Membantu bunda (anything, apa saja yang boleh dibantunya)


#Day1

Berhubung hari ini hari jumat (hari ketika pertama kali saya membuat tulisan ini, tapi terputus di tengah jalan, dan masih tersimpan rapi dalam bentuk draft πŸ˜‚), pas banget untuk memulai skil memotong kuku sendiri.

Saat ditawarin, kakak langsung excited "okee okee kakak mau!" Alhamdulillah anaknya langsung mau praktek sendiri, tapi motongnya sambil duduk di pangkuan saya seperti biasanya. Walaupun saya agak sedikit khawatir, takut kakak ga bisa melakukan dengan benar, tapi di tiga jari pertama kakak alhamdulillah bisa melakukannya walaupun ga rapi hehe. Selanjutnya masih saya yang lanjutin, karena tiba-tiba anaknya ngomong "ga rapi ya bun? Yang jari ini (jari manis) agak susah motongnya" Jadilah di praktek pertama ini ke 7 jarinya masih dibantu bunda. Ga apa pa ya? Kan namanya juga belajar. Jadi saya ga mau maksain anaknya. InsyaAllah jum'at depan kita coba lagi ya kak πŸ˜†




#level2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip



Sunday, 12 February 2017

Last day Game Level 1 Tantangan 10 hari

Memiliki suami cuek, tidak romantis dan agak sedikit tertutup (introvert) bukanlah keinginan saya.
Tapi apa daya, jika Allah ternyata berkehendak lain, menjadikan saya tulang rusuknya dan menjadikannya suami serta ayah bagi anak-anak kami.

Saya yang punya karakter periang, ceplas ceplos, suka bercerita apa saja pada orang-orang terdekat, lebih terbuka, sensitif, suka dengan keteraturan dan hal-hal romantis, sangat bertolak belakang dengan suami.

Jadi untuk sesi game atau challenge 10 hari komunikasi produktif ini, jujur saya lebih suka menggunakan materi komunikasi ini bersama kakak atau anak tertua saya. Lebih dapat gregetnya, mungkin karena ada banyak emosi yang turut ikut bermain di dalamnya.

Saya tidak mengatakan bahwa komunikasi produktif ini tidak berjalan dengan lancar antara saya dan suami. Hanya saja sedikit permainan emosi di dalamnya, tidak seperti yang saya rasakan jika melakukan komunikasi produktif dengan kakak yang sungguh sangat mengocok-ngocok kestabilan emosi saya. Karena sudah sama-sama dewasa dan berpikiran lebih jernih maka komunikasi kami alhamdulillah baik dan lancar, bahkan terstruktur dengan rapi, apa saja yang ingin kami lakukan ke depannya, sering kami diskusikan bahkan selalu kami akhiri di atas sebuah kertas, baik dari family rules, resolusi untuk tahun ini, planning 3-5 tahun ke depan, visi misi keluarga dan lain sebagainya, sudah tertuang dengan sangat rinci di family book kami.

Minusnya mungkin di saat saya moodnya lagi ga bagus dan suami pun mumet dengan tugas kantornya, dan ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan, trus saya nyerocos ini itu, akan sia-sia, karena tidak akan ditanggapi sepatah dua katapun oleh suami, karena yang direcokin malah tidur dengan bantal menutupi kupingnya πŸ˜‚

Tapi tiba-tiba malam ini..
"Bunda, makasih yaa sudah tidak memperpanjang lagi mengenai masalah kemarin"

"Ehm, masalah kemarin yang mana ya? Bunda lupa" pura-pura lupa dan ga ngerti, maklum perempuan 😝

"Tuh mulai lagi kan, katanya sudah mulai menguasai materi komunikasi produktif IIP"

Dalam hati, waduh kena deh.

"Ooh iyaa, masalah yang kemaren, iya gapapa yah, itu kan ga sepenuhnya salah ayah juga, bunda aja yang terlalu emosi" nyengir kuda 😁

"Alhamdulillah" lanjut kerja tugas kantornya

Saya? Hmm.. Ngelirik aja. Tapi tiba-tiba pengen ngejahilin yang lagi kerja tugas πŸ˜‚

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Tuesday, 7 February 2017

Sakit Tenggorokan dan The Power Of Bisikan



Kemaren Kakak dan Adek agak sedikit gak sehat, yang lumayan berasa sakitnya kakak, karena demam dan susah nelan sampe gak mau ngomong, leher yang dimaksudnya tenggorokan, sakit katanya. Adeknya pun ikut demam, tapi sebentar saja, tidak berlanjut sampai berjam-jam lamanya.

Mungkin karena beberapa hari ini hujan deras, diikuti ac kamar yang terlalu dingin, lupa dikecilin, bangun-bangun, anak-anak ini langsung demam.

Setelah saya ukur suhu tubuhnya, alhamdulillah demam kakak tidak begitu tinggi. Untuk penanganan pertama, saya berikan campuran air garam hangat untuk dikumur-kumur, yang minimal bisa membantu meringankan sakit tenggorokan kakak.

Sedang untuk adiknya, saya hanya menyusui sesering mungkin dan juga mengecek suhu tubuhnya. Dari angka 38.3, selanjutnya demam adek turun menjadi 37.6, alhamdulillah setelahnya tidak naik lagi, malah kembali normal.

Kebetulan malamnya, kami harus ke acara doa arwah keluarga. Saat akan pergi, saya mencoba menanyakan ke kakak, apakah ia yakin akan tetap ikut dengan kondisi seperti itu (sudah tidak demam, tapi tenggorokannya masih sakit), ternyata ia tetap niat pengen ikut. Ya sudah, akhirnya kami pergi.

Sesampainya di tempat tersebut. Kakak mulai terlihat tidak nyaman dan merengek sakit alias mohutuhale πŸ˜‚
Ini karena banyak keluarga yang bertanya dan mengasihaninya. Maklum, anak kecil kalo dikasihani semakin menjadilah mereka πŸ˜‚

Rengekan kakakpun semakin menjadi, sebelumnya saya sudah menanyakan "kakak ingin apa? mau apa? mau makan? mau ayam? mau kue? minum?" Semuanya dibalas dengan gelengan tanpa suara. Akhirnya saya bisiki kakak. "Kak, kalau masih pengen nangis, ditanya mau ini itu ga mau ngomong, nagis rengek terus, mending kita pulang aja."

Alhamdulillah. Tiba-tiba anaknya berhenti merengek nangis. Padahal saya udah niat banget mau ngajak pulang kalo emang situasinya malah tambah ribet.

Saat saya perhatikan kakak mulai diam, saya tawari untuk makan lagi.

"Kakak, mau makan?"

"Iyaa" akhirnya bersuara πŸ˜„

"Makan nasi, ayam goreng dan santan kayak punya bunda?

"Tidak mau"

"Kalau begitu mau makan apa?"

Diam.

"Kuah sup mau?" tiba-tiba Oma Uci, ipar dari omanya bertanya.

"Iya mau" kata kakak

Alhamdulillah, akhirnya kakak mau makan juga walaupun maunya kuah sup doang.

Dan akhirnya, kuah sup yang dimakan, wortelnya aja, ayam, kentang dan lainnya disisakan 😁

Tak apalah, bagi saya itu sudah sangat cukup, daripada ngerengek terus, memilih mogok makan, mogok bersuara, setidaknya dia masih bisa memperlihatkan rasa sukanya terhadap wortel sama sekali gak hilang walaupun tenggorokannya lagi ga enak 😍


#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Thursday, 2 February 2017

Day 4 Failed


Jadi ceritanya, kakak nangis karena tidak diizinkan untuk ada di luar rumah lagi pada jam setengah 9 malam ini. Dia keukeh mau ikutan duduk santai bareng Opanya di warung depan. Kebetulan warung depan rumah menyediakan space untuk sekedar nongkrong, ngopi dan diskusi bapak-bapak kompleks perumahan ini.

Berhubung lagi di rumah mertua, emosi kakak kadang susah dikendalikan. Ini karena ada Opa yang sangat memanjakan kakak dan menjadi pembelanya saat ia tidak mau mematuhi beberapa peraturan yang telah kami sepakati sebelumnya. Seperti jam tidur malam pukul 09.00 dan sudah harus prepare bed time satu atau setengah jam sebelumnya.

Dan komunikasi produktif untuk kakak malam inipun FAILED. Karena saya sedang meninabobokan si adek, maka saya tidak bisa langsung ikut membujuk kakak masuk ke dalam rumah. Saya meminta pak  suami yang turun langsung mengeksekusi kakak πŸ˜„

Selain karena sedang mengeloni adiknya, sayapun tidak enak hati jika harus berhadapan langsung melarang kakak untuk tidak ikut nongki bersama Opanya selarut itu.

Walhasil kakak nangis kejer dan berteriak marah, tidak ingin masuk ke dalam rumah. Apapun bujukan dan rayuan yang dikatakan Ayahnya, tidak mau ia dengarkan. Sampai akhirnya ia meronta-ronta dan sempat melayangkan sebuah pukulan saat dipeluk paksa Ayahnya untuk masuk.

Setibanya di kamar, seperti biasa, saya pasti akan bertanya "kakak kenapa?" Berusaha untuk mendengarkan perasaannya terlebih dahulu agar bisa ikut merasakan emosinya, tentunya dengan menunggu sebentar saat tangisannya mulai sedikit reda.

Dan dari ceritanya, sebenarnya saat Ayah mulai memaksanya masuk, ia masih ingin dibujuk oleh Opanya untuk sebentar saja berada disitu, dan nanti setelah itu, Opa akan langsung membawanya masuk ke dalam lagi.

Jadiii komunikasi produktif malam ini dinyatakan gagal, karena mungkin saat meminta kakak untuk masuk dan kakak banyak melakukan perlawanan, memaksa Pak suami untuk bertindak tegas tanpa berusaha bernegosiasi lagi menuruti keinginan terakhir kakak.

Dan di video ini, saya meminta kakak untuk meminta maaf langsung ke Ayahnya. Tapi sebelumnya Ayah sudah terlebih dulu meminta maaf ke kakak. Bahkan setelah mengantar kakak ke kamar, Ayah sempat meredakan emosinya sendiri dengan mencuci muka dan meminum segelas air πŸ˜‚
Yes i know u well pak suami, saya tau dirimu sebenarnya tidak akan setega itu memaksa kakak dengan sebegitu kerasnya malam ini πŸ˜†



Terkadang hidup tidak akan selalu sejalan dengan apa yang kita impikan, sedikit keluar dari jalannya, membuat kita belajar proses mengejar impian.




#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip
#ceritainka

Monday, 30 January 2017

Monopoli Biskuit Hingga Ikut Merapikan Kamar


Assalamualaikum..
Komunikasi produktif
Tantangan hari keduaaaa πŸ˜†


"Tidak mauuuu..! Ini punya kakak! Tidak mauuuu!!!" Terdengar rengekan teriakan kakak dan tangisan adek.

Kekacauan kecil yang terjadi di bawah, memaksa saya untuk turun melihat keadaan tersebut. Ternyata kakak tidak ingin berbagi biskuit dengan adek. Padahal biskuit tersebut, biskuit bayi milik adiknya.

Biasanya jika lagi dalam keadaan sedang sibuk dengan tugas rumah tangga, mendengar kekacauan yang disebabkan oleh anak-anak, saya akan refleks teriak bertanya apa yang terjadi dari tempat saya, dibanding datang mendekat dan bertanya dengan pelan dan lembut kepada anak-anak, sebab terkadang saya merasa agak rempong untuk mencoba berhenti dari aktivitas yang sedang saya lakukan. Tanggung wkwkwk. Adakah yang sama? (Nyari temen) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Akan tetapi, saat mulai mengambil ancang-ancang untuk teriak ingin bertanya seperti biasanya, tiba-tiba saya langsung teringat jika saat ini sedang belajar tantangan komunikasi produktif. Walhasil teriakan ingin bertanya "kakaak kenapaaa? Ada aapaaaa?" hanya mampu tercekat sampai di sela ditenggorokan saja.

Sebenarnya saat kejadian tersebut, ada Oma yang sedang menjaga dan bermain bersama adek. Tapi kedengarannya Oma pun mulai tidak bisa menangani kemauan kakak yang ingin menguasai biskuit itu. Maklum, kakak belum bisa sepenuhnya mengatasi rasa cemburu terhadap adiknya, sehingga membuatnya ingin selalu memonopoli hampir semua barang milik adek.

Bergegas saya datangi mereka, ternyata kakak sudah mulai mau berbagi biskuit tersebut, hanya saja dengan syarat, ia sendiri yang harus menyuapi adiknya. Sementara si adek lebih memilih untuk memasukkan biskuit itu ke dalam mulut dengan sendirinya. Jadilah kembali terjadi pertengkaran kecil antara keduanya. Melihat hal ini, yang terlintas dipikiran saya hanyalah; bagaimana caranya menyudahi kekacauan ini sehingga saya bisa melanjutkan aktivitas sebelumnya dengan segera.

Saya: "Kak, kayaknya adek lebih suka makan sendiri, kayak kakak kecil dulu, maunya makan sendiri, tidak mau disuapi"

Kakak: "Kalo gak mau disuapi, yasudah.. Adek gak usah makan" Waduuuh kayaknya karakter keras kepala bunda nurun ke anaknya nih wkwkwk πŸ˜‚

Saya: "Jangan gitu dong kak, ini kan sebenarnya biskuit bayi, biskuit ini dibuat khusus untuk anak bayi yang belum punya gigi, kan gigi kakak udah ada semua, udah lengkap malah.." Sambil liatin giginya dengan takjub "tuh kan gigi kakak udah lengkap semua, bagus lagi, gak ada bolongnya, kakak hebat ya ngerawat gigi" sembari ngasih 2 jempol dan nyium pipi kakak.

Kakak: "iya yaa, gigi kakak lengkap dan gak ombong ya bun" dengan riang memamerkan giginya.

Dalam hati, alhamdulillah fokus kakak mulai bisa teralihkan. Saatnya membujuk untuk menyudahi kekacauan ini.

Saya: "Ompong kak.. Bukan ombong hehehe"

Saya: "Kak, gimana kalo kakak bantu bunda rapiin kamar dan ganti seprei. Mau?"

Tiba-tiba anaknya langsung bersorak "mauuu mauuuu ayooo bundaa" sambil ngasih biskuit dan bungkusnya ke tangan Oma dan segera menarik tangan saya menuju ke kamar kami.

Dan taraaaa..
Inilah sebagian foto dan video kakak yang ikut membantu saya merapikan kamar dan mengganti seprei tempat tidur kami.








#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Sunday, 29 January 2017

Sarapan Nasi Kuning

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualaikum..

Alhamdulillah mulai nulis postingan lagi berkaitan dengan NHW kelas Ibu Profesional. Karena kemaren sudah lulus kelas matrikulasinya, sekarang ada kelas lanjutan Bunda Sayang IIP. NHW nya apakah tetap sama? Gak dong, nhw nya tentu berbeda.

Untuk materi pertama, diawali dengan Komunikasi Produktif, nhw nya lebih mirip seperti game atau challenge untuk melihat kekonsistenan para anggota kelas bunsay.

Jadi utk NHW #1 bulan ini, kami diminta membuat family forum sebagai sarana komunikasi keluarga dan menceritakannya melalui narasi pendek (boleh disertai dengan foto/video) dengan jangka waktu 10 hari.

Pas banget hari ini weekend, semua anggota inti keluarga pada lengkap. Pak suami dan kakak yang hari-hari sebelumnya sedang tidak di rumah, bisa berkumpul kembali. Makanya sebenarnya postingan tantangan hari pertama saya agak telat dibanding teman-teman lainnya, yang saat ini sudah masuk tantangan hari ke-2, 3, dan 4. Tapi gpp, yang dilihat adalah konsistensinya kan yaa? 😁

Jadi, subuh pagi tadi seperti biasa adek sudah ikut bangun dan mulai mengganggu kakak yang masih tidur. Tak lama kemudian, mulai terdengar suara kakak yang merengek gak jelas. Setelah saya dekati dan tanya;

Saya: "kakak kenapa?"

Kakak: "ndjajdib&zbxjksn.. lapar.." dengan suara yang kurang jelas, tapi kata lapar di akhir kalimatnya terdengar jelas

Saya: "kakak lapar? Mau makan?"

Kakak: "hu'uum.." Jawabnya masih sambil ngantuk hehe

Saya: "yasudah, ayo bangun.. kakak makan bubur adek aja dulu ya?"

Tiba-tiba anaknya malah nangis dan ngomong gak mau. Pas ditanya lagi mau makan apa, katanya pengen makan nasi kuning.

Jadilah pagi ini kami berjalan pagi ke tempat jualan nasi kuning, kebetulan jaraknya agak dekat dari rumah. Dan ini videonya πŸ˜„

#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip


Sunday, 18 December 2016

Nice Homework #9

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

 

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai :

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur. Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.
Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini:
Selamat menjadi agen perubahan
Karena,

Everyone is a Changemaker
(Setiap orang adalah agen perubahan)




Minat, Hobi, Ketertarikan
  • Dunia Parenting *fokus utama*
  • Interaksi Sosial (hubungan antar sesama manusia)

Hard Skill:
  • Menulis
  • Mengikuti komunitas/kelas parenting, kelas sosial
  • Membaca buku atau artikel parenting,
  • Sharing bersama ibu ibu yang mempunyai visi dan misi yang sama
  • Ikut seminar parenting,

Soft Skill:
  • Komitmen yang kuat
  • Konsistensi
  • Ketekunan
  • Disiplin
  • Konsep
  • Planning yang jelas 

Isu Sosial: 
  • Kekerasan pada anak
  • Pola asuh yang salah
  • Pergaulan bebas/kenakalan remaja
  • Tantangan mendidik anak di era digital

Masyarakat:
  • Orang tua, orang tua baru
  • Para ibu muda
  • Keluarga
  • Teman
  • Kenalan
  • Pembaca

Ide Sosial:
  • Menulis melalui blog dan media sosial lainnya


Alhamdulillaaaaah
Bergabung dengan kelas matrikulasi selama 2 bulan lebih ini, membuat saya banyak menemukan sesuatu yang baru bukan hanya sebagai seorang IBU tapi juga sebagai pribadi yang mampu melihat bakat dan tujuan diri, memiliki visi misi yang jelas menjalani hari kedepan. Kelas ini benar-benar menggali diri saya lebih dalam, menjadikan saya kembali merenungi untuk apa saya dihadirkan di dunia ini, di negara ini, di kota ini, di lingkungan ini, di keluarga ini, di antara suami dan anak-anak. Sungguh seratus ribu yang saya keluarkan tidak sebanding dengan ilmu yang saya dan teman-teman dapatkan di kelas ini.

Dan dengan selesainya NHW #9 ini, maka akan segera berakhir pula kelas online Matrikulasi Ibu Profesional. Terimakasih untuk Ibu Septi Peni Wulandani dan tim, para Fasilitator kami yang baik hati, yang menjalankan tugasnya dengan sangat baik, mbak Shanty Dewi Arifin, mbak Rindu Rahmiasih dan mbak Novi Fitriani, Ketua Kelas mbak Destyka Putri, para Koordinator Mingguan serta teman-teman anggota kelas matrikulasi dari berbeda pulau sampai beda benua yang saling menginspirasi, menyemangati, mendukung, sharing berbagai hal tanpa pamrih. Aaah love you all 😚 Agak sedikit sedih mengingat kelas ini akan segera berakhir huhuhu..

So, this is it tugas NHW terakhir saya
Semoga kedepannya masih ada kelas lanjutan lagiii
Biar semangat dan selalu termotivasi terus untuk menjadi seorang Ibu Profesional

with LOVE


Friday, 16 December 2016

Nice Homework #8

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS


Bismillahirrohmanirrohiim

Setelah berkali-kali membaca soal NHW #8 ini, saya menunggu mood baik untuk menuliskan nhw ini, tanpa mau berpikir waktu deadline yang akan segera tiba.
Entahlah ada kebingungan yang melanda saat akan menjawab point pertama dari tugas ini, yaitu mengambil salah satu aktivitas dari kuadran suka dan bisa, di nhw sebelumnya.

Saya bingung, karena beberapa aktivitas yang saya tuliskan di kuadran tersebut, tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk menjadikan salah satu dari mereka menjadi bagian penting untuk saya fokuskan masuk dalam misi hidup menunjang produktivitas keluarga. Akan tetapi ada baiknya kita coba. Lets find out! πŸ˜‰


A. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)


πŸ‘‰ menulis


B. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)


πŸ‘‰ seorang ibu yang bisa menulis atau lebih ke sharing mengenai hal hal yang berhubungan dengan parenting

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

πŸ‘‰ membuat jurnal parenting anak berdasarkan pengalaman sendiri

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

πŸ‘‰ skill dan tehnik menulis
πŸ‘‰ komitmen dan konsistensi yang tinggi
πŸ‘‰ pengetahuan mengenai dunia parenting


C. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:


1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)?

πŸ‘‰ Akhirat, surga Allah, hidup tenang, ikhlas dan bahagia

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)?

πŸ‘‰ menjadi istri solihah
πŸ‘‰ menjadi ibu profesional

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)?

πŸ‘‰ menguasai ilmu bunda sayang
πŸ‘‰ menjadi pribadi yang mandiri, tegas, sabar, positif dan berpikir lurus ke depan
πŸ‘‰ meningkatkan kualitas ibadah
πŸ‘‰ menghindari keluhan
πŸ‘‰ meningkatkan rasa syukur sampai ke level selanjutnya


pic from google


Sunday, 4 December 2016

Nice Homework #7


Tahapan Menuju Bunda Produktif


Bismillahirrahmanirrohim

Assalamualaikum
Hai haiii.. Pekan ke 7 kuliah online matrikulasi, tak terasa sudah mau hampir 2 bulan lamanya menimba ilmu di sini. Alhamdulillah masih semangat belajar walaupun raga lagi tidak fit karena cuaca yang tidak bersahabat πŸ˜†

Jadi, pekan ini kami ditugaskan untuk mengkonfirmasi apa yang sudah ditemukan selama ini pada beberapa NHW sebelumnya, dengan tools Talents Maping yang dibuat oleh Abah Rama di temubakat.com
 
A.  Mengetahui tipe kekuatan diri ST30 (strength typology)
Berdasarkan hasil st30 beberapa sifat potensial kekuatan yang saya miliki seperti terlihat pada gambar di bawah:

  1. Servicing (Melayani Orang)
  • Caretaker: menaruh perhatian atau merawat orang
  • Server: melayani dan mendahulukan orang lain

  1. Technical (Motivasi Diri Outside)
  • Distributor: selalu berpikir pasti ada jalan atau cara yang lebih baik

  1. Elementary (Motivasi Diri Inside)
  • Journalist: senang mengkomunikasikan ide, suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur

  1. Generating Idea (Otak Kanan/Intuitif)
  • Marketer: berpikiran strategis, senang mengkomunikasikan sesuatu, banyak ide dan senang menonjolkan kelebihan


Berhubung saya hanya bisa mengartikan hasilnya dari panduan membaca hasil dan belum terlalu puas sepertinya, maka saya meminta bantuan seorang teman yang ahli dalam membaca hsil st30 ini, namanya mbak Rima. Kebetulan mbak Rima ikut masuk dalam kelas online matrikulasi ini dan alhamdulillah beliaupun menawarkan bantuan kepada kami untuk membaca hasil st30 melalui via wapri (whatsapp pribadi)

Dan ini hasil yang dibacakan mbak Rima, sepertinya tidak jauh beda dengan hasil yang saya coba baca sendiri 😁

Mba Inka adalah orang yang senang melayani, senang berbagi, emphati, dan suka membantu orang lain.
Teratur, menyukai aturan2, bertanggung jawab dan pekerja keras.
Mudah menyesuaikan diri, senang menjelaskan sesuatu baik secara lisan maupun tulisan, dan suka pekerjaan rutin. Juga senang membuat tulisan rutin.
Banyak ide, senang berfikiran strategis, dan suka menonjolkan kelebihan yg dimiliki atau yang ada padanya.
Kemampuan potensial positif yg dimiliki ada di bidang pelayanan, teknik, dan membuat ide.
Sedangkan untuk sifat potensial kelemahan mba Inka, jika berhubungan dengan pengolahan data, pengelolaan keuangan dan konsistensi.

Well, seperti itulah hasilnya. Thanks to mbak Rima yang sudah membantu πŸ™

Next..

B. Membuat kuadran aktivitas



Kuadran  1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
  • Belajar sesuatu yang baru
  • Membaca
  • Menulis
  • Story telling
  • Shopping
  • Membaca mimik/ekspresi wajah, bahasa/gerak tubuh seseorang 😁
Kuadran 2  : Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA
  • Memasak kue
  • Menjahit pakaian jadi
  • Crafting
  • Traveling
  • Culinary/kuliner
  • Main alat musik
  • Ikut kegiatan sosial
Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda  BISA
  • Mencuci piring/pakaian
Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA
  • Olahraga
  • Mengolah data
  • Mekanik

Tuesday, 29 November 2016

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

MENJADI IBU PROFESIONAL

KEBANGGAAN KELUARGA



Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #2? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?


πŸ€APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

πŸ€APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

πŸ€MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1. Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

πŸ€VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

πŸ€BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

πŸ€APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

πŸ“šSUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1

ADAB MENUNTUT ILMU


Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah
perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu
menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu,
sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa
orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu
tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa
yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang
sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang
paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin
mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut
ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri
dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri
dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu
itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab
menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

*Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan*

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik,
sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari
Ibunya

ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke
dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu
itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling
awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu
ilmu sedang disampaikan.

d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang,
membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua
runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu
disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar
mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati,
menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha
Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau
menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan
memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru
berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru
mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu
mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang
disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta
ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh
disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan
kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk
buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Nice Homework #5 Matrikulasi IIP Batch #2

πŸ“ *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR* πŸ“

(Learning  How to Learn)




Setelah malam ini kita mempelajari  tentang “Learning How to Learn”  maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil  sempurna yg kami harapkan, melainkan "proses" anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.

Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/


__________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Bismillahirrahmanirrahiim

Yup, itulah isi tugas NHW 5. Singkat, padat dan jelas.
Kali ini tanpa panduan apapun, karena Tim Matrikulasi ingin melihat sejauh mana kami para peserta bisa menerapkan ilmu yang didapatkan dari materi Learning How to Learn.

Jujur NHW kali ini agak susah susah gampang. Susahnya karena saat materi diberikan, saya tidak terlalu fokus untuk menyerap materi karena justru sibuk merekap hasil diskusi review NHW sebelumnya dan materi selanjutnya. Dan parahnya dibeberapa hari ini, diskusi sangat hidup bahkan agak ‘rame’ dibanding diskusi diskusi sebelumnya, mungkin karena materinya lebih ‘kena’ atau karena PIC minggu ini termasuk saya? wkwkwk ke-GR-an banget yaa 😝 *kidding

Aah sudahlah, prolognya agak kepanjangan ini. Saatnya serius dan masuk ke jawaban NHW 5 *jengjengjeng*

Design pembelajaran

Sebelumnya kita masuk dulu ketahap pengertian, apa itu design pembelajaran?
Menurut wikipedia ensiklopedia, desain pembelajaran adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi.

Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembengan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Desain pembelajaran sebagai proses. merupakan pengembangan sistematis tentang spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran dan teori belajar untuk menjamin mutu pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan belajar serta sistem penyampaiannya. Zuhairistain. “Pengertian Desain Pembelajaran”. 16 Maret 2012 <zuhairistain.blogspot.co.id/2009/04/pengertian-desain-pembelajaran_16.html?m=1>

konsep desain pembelajaran personal
Berikut ide design pembelajaran yang saya tuangkan ke dalam gambar sebuah pohon.

Jadi untuk akar atau landasannya dimulai dengan aqidah atau iman, kemudian sebelum masuk ke tahap materi ilmu, diperlukan adab dalam menuntut ilmu, karena adab adalah pembuka pintu ilmu bagi siapa saja yang ingin belajar suatu ilmu, dan adab tidak bisa diajarkan, adab hanya mampu ditularkan, sehingganya penting untuk melakukan adab sebelum ilmu . Selanjutnya masuk ke 4 cabang tahapan materi untuk menjadi Ibu Profesional yaitu:
  1. Bunda Sayang: Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
  2. Bunda Cekatan: Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
  3. Bunda Produktif: Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian, finansial dll
  4. Bunda Shaleha: Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

Kemudian untuk bisa memahami dan menumbuhkan semangat belajar pada anak, maka seorang ibu harus bisa;
  1. Menguatkan iman anak
  2. Memahami karakter anak
  1. Mengenali passion anak
  2. Mengetahui minat dan bakat anak
  3. Mengetahui cita-cita anak

Syukron, alhamdulillaah

Gorontalo, 20 November 2016
Inkastevani