Saturday, 18 March 2017

Praktek Memotong Kuku sesi #2


Assalamualaikum

Masuk challenge hari ke-7 (walaupun tugasnya dirapel sekalian di 2 hari terakhir menuju deadline, tapi dokumentasi tahapan skillnya udah dipreparin lebih dulu 😁). Entah kenapa tiba-tiba langsung punya mood untuk nulis dan selesain tugas ini.

So, kali ini kakak mau lanjutin praktek memotong kuku sendiri.

Kayaknya setelah dipikir-pikir, skill memotong kuku ini agak kecepetan materinya untuk kakak hmm. Tapi, karena sudah terlanjur saya masukkan dalam daftar skill yang ingin dilatihkan, trus anaknya pas ditawarin juga mau, ga nolak, malah happy, ya ga papa lah yaa, yang penting anak senang ibunya pun lanjut tenang bikin tugas 😂

Eeh tapi, pas liatin kakak motong kuku sendiri, karena belum rapi, masih ada tajam-tajamnya terutama dibagian pinggiran kuku, dan kuku jari tangan kanannya yang bahkan belum bisa dipotong dengan benar. Saya jadi gemes sendiri pengen rapihin. Ujung-ujungnya saya rapihin lagi. Saya mintanya yang dipotong sebisanya kakak saja.

Kalau yang kemaren dia agak susah motong kuku di bagian jari manis, kelingking, dan semua jari tangan kanan, kali ini saya biarin dia mulai mengekseskusi semua kuku jarinya sesuka hati. Dan sekali lagi, se-bi-sa-nya.

Akhirnya, wujud asli hasil potongan kuku kakak sebelum dirapihin bunda, seperti ini.

Before (potong kuku sendiri)

Dan ini penampakan afternya.

After (dirapihin bunda)

Alhamdulillah, lumayan. Minimal selain belajar cara potong kuku sendiri, kakak bisa sekalian belajar tanggung jawab secara tidak langsung. Belajar tanggung jawabnya dimana? Dengan kakak menyelesaikan skill memotong kesemua jari kukunya (fix 10 jari, kalo kemaren kan 3 jari aja, selanjutnya saya lanjutin), walaupun masih jauh dari kata rapi, tapi bersyukur kakak sudah sangat responsible dengan prakteknya. Ada niat untuk mau menyelesaikan ke sepuluh kuku jari tangan, walaupun nanti akhirnya saya bantu rapihkan lagi 😆


#level2
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

Mengelompokkan Pasangan Warna


Assalamualaikum..

Masih dengan melatih tahap kemandirian kakak dalam hal mencocokkan warna. Seingat saya, kali itu saya ditarik paksa dengan tiba-tiba ke arah ruang tengah.

"Bunda, sini coba lihat!"

Dengan kaget dan penasaran, sayapun mengikutinya.

"Kakak lagi bikin ini" sambil nunjuk ke beberapa pegangan atau stik sedotan balon yang dijejerin dan dipasangkan dengan warna yang sama.

"Kemaren kata bunda, kakak masih belum bisa mencocokkan warna, nih ini buktinya kakak bisa kok!" dengan nada pamer dan mulut sedikit manyun.

"Ini kakak yang atur dan bikin sendiri? Bunda coba bikin acak dan kakak atur lagi boleh?" Tanya saya iseng. Bukan ga percaya sama anaknya sih, tapi pengen ngetes lagi aja hehehe.

"Hmm.. Oke, boleh" Ada sedikit nada kecewa sepertinya.

"Kalo gitu ga jadi deh, bunda percaya sama kakak" sambil senyum. "Sebentar bunda ambil hp dan foto lagi ya?"

"Okeeey yes!" seperti biasa, langsung riang dan semangat lagi.





Jadi sebelumnya kakak bukannya belum bisa mencocokkan atau mengelompokkan pasangan warna. Sudah bisa, tapi entahlah kadang untuk warna biru dan hijau masih sering ketukar. Apalagi pas ketemu warna tosca, nyebutnya pasti biru hehe. Masih bisa dimaklumi sih, karena untuk milah-milih warna, apalagi warna turunan seperti turqoise, magenta, dll, kita orang dewasa aja kadang ribet nyebutnya masuk warna apa 😂

Tapi saya yakin, nanti kalo udah gedean dikit, kakak pasti sudah bisa tau dan mengelompokkan berbagai warna. Kita saja sebagai orang tua yang tidak sabaran, terlalu terburu-buru ingin anak menjadi lebih cepat tahu segalanya, padahal semua anak tumbuh dan kembangnya berbeda satu sama lain.


#level2
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

Friday, 17 March 2017

Mix and Match Baju Ala Kakak Aqeela



Assalamualaikum

Jadi tadi pas pulang sekolah, ada yang langsung nagih minta praktek soal matchingin baju.

"Bunda, kemarin kan katanya lagi punya tugas melatih kakak biar bisa tambah mandiri"

"Iya, terus?"

"Kapan mau praktekin kakak mix match baju sendiri bun? Kan sebenarnya kakak udah mulai tau"

Ternyata kakak sudah ga sabar mau praktek soal ini, karena waktu dikasih tau kalau bunda punya tugas yang perlu bantuannya, anaknya sih langsung senang bahkan ga sabar. Tapi karena kemaren-kemaren bundanya lagi ga mood untuk nulis, jadinya ketunda lama. Maaf ya kak 😁

Nah, akhirnya setelah menunggu 3 minggu lamanya (sampai anaknya hampir lupa, pas diingetin lagi, eh malah langsung nagih ga sabar 😂)

"Ya sudah, silahkan kakak pilih mau pakai yang mana, nanti baju sama celana di cocokin, bunda mau lihat"

Sambil nyusuin adeknya, saya perhatikan kakak sibuk pilah pilih baju. Ada beberapa baju yang dipilih, tapi nyari celana yang cocok warnanya, agak kesulitan karena ga semua baju dan celananya tersimpan di lemari pakaian kamar kami, sebagian ada di lemari kontainer bawah. Jadi saya ngasih saran ambil yang ada aja, biar kakak ngambilnya ga bolak balik ke bawah.

Dan akhirnyaaa
Taraaaaa!
Inilah baju pilihan kakak



Lumayan, matching atasan dan bawahan, karena di bajunya ada sedikit warna hitam, jadilah bisa dipadupadankan dengan legging hitamnya.



Dan karena tugas ini harus ada dokumentasinya, pas difoto kakak sekalian bergaya ala-ala model profesional 😂


#level2
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

Thursday, 16 March 2017

Melatih Kemandirian Anak (Potong Kuku Sendiri)



Assalamualaikum..

Yeaaay hari ini baru mau mulai mengerjakan game level 2 dari kelas bunda sayang. Telat banget ya bikinnya?! 😁
Entahlah, menunggu mood untuk menulis itu ga gampang lho, apalagi untuk ngerjain tugas yang seperti ini. Saya inginnya menerjakan tugas ini dengan betul-betul, bukan asal-asalan, apalagi menyangkut cara ngedidik anak, jadi emang harus dilakukan dengan benar.

Jadi, seperti sebelumnya, game ini berisi tantangan 10 hari dengan materi Melatih Kemandirian.

Berhubung kakak Aqeela banyak yang sudah bisa dilakukannya di umur 4.7 tahun ini, jadi berdasarkan age appropriate chores umur 4-5 tahun, kakak sudah bisa melakukan hampir semua tugas yang bisa dilakukan anak seusianya dengan benar. Seperti mandi dan cebok sendiri, bantu ngelap meja makan selesai makan, melipat baju, merapikan mainan, membantu merapikan tempat tidur, dll. Makanya pas pertama agak bingung mau nulis melatih kemandirian kakak yang mana, karena alhamdulillah dari umur 2 tahunan, saya mulai membiasakan kakak untuk bisa melakukan sesuatu sesuai kemampuannya sendiri, which means selalu memberikannya kesempatan untuk melakukan hal yang dia mau. Tapi tentunya dalam pengawasan kami. Karena saya dan suami bukan tipe orang tua yang suka ngelarang anak mau ini mau itu, mungkin dari sinilah kemandirian kakak mulai terbentuk dengan sendirinya.

Saat ngelatih potty/toilet training pun alhamdulillah bukan sesuatu yang gimana banget, karena saat mau ngelatih hal itu, saya sudah mengingatkan sebelumnya ke kakak, bahwa nanti pas umur 3 tahun kakak ga akan pakai popok lagi, dan kalau mau pipis, bilang ke bunda dan nanti pipis di toilet atau kamar mandi. kata-kata ini saya sounding terus menerus bahkan sebelum dia tidur, dan alhamdulillah selama toilet training berjalan, kakak tidak pernah ngompol. O ya, kayaknya pernah ngompol, tapi justru setelah toilet training selesai, pas udah 3 tahunan lebih kakak pernah mimpi pipis dan pas kebangun langsung tiba-tiba bangunin saya dan minta maaf ngomong kalo ngompol sambil nangis, jadilah malam itu sekitar pukul 3 pagi saya beresin ompol kakak, sambil mandiin dia karena ompolnya basah sampe ke punggungnya 😁

Anaknya ga masuk angin dimandiin tengah malam? Alhamdulillah gak. Karena airnya ga dingin, hangat, jadinya kakak malah berasa fresh dan masih nyempetin diri untuk main lagi, baru sejam kemudian ngantuk dan akhirnya tidur lagi. Kalo ga percaya cobain deh, mandi jam segitu, fresh banget kan? Walaupun nanti setelahnya bisa ngantuk lagi hahaha.

Nah untuk challenge kali ini, berhubung diberikan tugas minimal melatih 4 skill kemandirian selama 10 hari, maka yang ingin saya beri latihan ke kakak;
1. Memotong kuku sendiri (seminggu maksimal 2x, senin dan jumat)
2. Memakai jilbab sendiri (setiap kali berangkat sekolah) ini biasanya masih sering dibantu pakaikan sama saya atau omanya
3. Mencocokkan warna (matchingkan baju, kaos kaki, dll)
4. Membantu bunda (anything, apa saja yang boleh dibantunya)


#Day1

Berhubung hari ini hari jumat (hari ketika pertama kali saya membuat tulisan ini, tapi terputus di tengah jalan, dan masih tersimpan rapi dalam bentuk draft 😂), pas banget untuk memulai skil memotong kuku sendiri.

Saat ditawarin, kakak langsung excited "okee okee kakak mau!" Alhamdulillah anaknya langsung mau praktek sendiri, tapi motongnya sambil duduk di pangkuan saya seperti biasanya. Walaupun saya agak sedikit khawatir, takut kakak ga bisa melakukan dengan benar, tapi di tiga jari pertama kakak alhamdulillah bisa melakukannya walaupun ga rapi hehe. Selanjutnya masih saya yang lanjutin, karena tiba-tiba anaknya ngomong "ga rapi ya bun? Yang jari ini (jari manis) agak susah motongnya" Jadilah di praktek pertama ini ke 7 jarinya masih dibantu bunda. Ga apa pa ya? Kan namanya juga belajar. Jadi saya ga mau maksain anaknya. InsyaAllah jum'at depan kita coba lagi ya kak 😆




#level2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip



Sunday, 12 February 2017

Last day Game Level 1 Tantangan 10 hari

Memiliki suami cuek, tidak romantis dan agak sedikit tertutup (introvert) bukanlah keinginan saya.
Tapi apa daya, jika Allah ternyata berkehendak lain, menjadikan saya tulang rusuknya dan menjadikannya suami serta ayah bagi anak-anak kami.

Saya yang punya karakter periang, ceplas ceplos, suka bercerita apa saja pada orang-orang terdekat, lebih terbuka, sensitif, suka dengan keteraturan dan hal-hal romantis, sangat bertolak belakang dengan suami.

Jadi untuk sesi game atau challenge 10 hari komunikasi produktif ini, jujur saya lebih suka menggunakan materi komunikasi ini bersama kakak atau anak tertua saya. Lebih dapat gregetnya, mungkin karena ada banyak emosi yang turut ikut bermain di dalamnya.

Saya tidak mengatakan bahwa komunikasi produktif ini tidak berjalan dengan lancar antara saya dan suami. Hanya saja sedikit permainan emosi di dalamnya, tidak seperti yang saya rasakan jika melakukan komunikasi produktif dengan kakak yang sungguh sangat mengocok-ngocok kestabilan emosi saya. Karena sudah sama-sama dewasa dan berpikiran lebih jernih maka komunikasi kami alhamdulillah baik dan lancar, bahkan terstruktur dengan rapi, apa saja yang ingin kami lakukan ke depannya, sering kami diskusikan bahkan selalu kami akhiri di atas sebuah kertas, baik dari family rules, resolusi untuk tahun ini, planning 3-5 tahun ke depan, visi misi keluarga dan lain sebagainya, sudah tertuang dengan sangat rinci di family book kami.

Minusnya mungkin di saat saya moodnya lagi ga bagus dan suami pun mumet dengan tugas kantornya, dan ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan, trus saya nyerocos ini itu, akan sia-sia, karena tidak akan ditanggapi sepatah dua katapun oleh suami, karena yang direcokin malah tidur dengan bantal menutupi kupingnya 😂

Tapi tiba-tiba malam ini..
"Bunda, makasih yaa sudah tidak memperpanjang lagi mengenai masalah kemarin"

"Ehm, masalah kemarin yang mana ya? Bunda lupa" pura-pura lupa dan ga ngerti, maklum perempuan 😝

"Tuh mulai lagi kan, katanya sudah mulai menguasai materi komunikasi produktif IIP"

Dalam hati, waduh kena deh.

"Ooh iyaa, masalah yang kemaren, iya gapapa yah, itu kan ga sepenuhnya salah ayah juga, bunda aja yang terlalu emosi" nyengir kuda 😁

"Alhamdulillah" lanjut kerja tugas kantornya

Saya? Hmm.. Ngelirik aja. Tapi tiba-tiba pengen ngejahilin yang lagi kerja tugas 😂

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Tuesday, 7 February 2017

Sakit Tenggorokan dan The Power Of Bisikan



Kemaren Kakak dan Adek agak sedikit gak sehat, yang lumayan berasa sakitnya kakak, karena demam dan susah nelan sampe gak mau ngomong, leher yang dimaksudnya tenggorokan, sakit katanya. Adeknya pun ikut demam, tapi sebentar saja, tidak berlanjut sampai berjam-jam lamanya.

Mungkin karena beberapa hari ini hujan deras, diikuti ac kamar yang terlalu dingin, lupa dikecilin, bangun-bangun, anak-anak ini langsung demam.

Setelah saya ukur suhu tubuhnya, alhamdulillah demam kakak tidak begitu tinggi. Untuk penanganan pertama, saya berikan campuran air garam hangat untuk dikumur-kumur, yang minimal bisa membantu meringankan sakit tenggorokan kakak.

Sedang untuk adiknya, saya hanya menyusui sesering mungkin dan juga mengecek suhu tubuhnya. Dari angka 38.3, selanjutnya demam adek turun menjadi 37.6, alhamdulillah setelahnya tidak naik lagi, malah kembali normal.

Kebetulan malamnya, kami harus ke acara doa arwah keluarga. Saat akan pergi, saya mencoba menanyakan ke kakak, apakah ia yakin akan tetap ikut dengan kondisi seperti itu (sudah tidak demam, tapi tenggorokannya masih sakit), ternyata ia tetap niat pengen ikut. Ya sudah, akhirnya kami pergi.

Sesampainya di tempat tersebut. Kakak mulai terlihat tidak nyaman dan merengek sakit alias mohutuhale 😂
Ini karena banyak keluarga yang bertanya dan mengasihaninya. Maklum, anak kecil kalo dikasihani semakin menjadilah mereka 😂

Rengekan kakakpun semakin menjadi, sebelumnya saya sudah menanyakan "kakak ingin apa? mau apa? mau makan? mau ayam? mau kue? minum?" Semuanya dibalas dengan gelengan tanpa suara. Akhirnya saya bisiki kakak. "Kak, kalau masih pengen nangis, ditanya mau ini itu ga mau ngomong, nagis rengek terus, mending kita pulang aja."

Alhamdulillah. Tiba-tiba anaknya berhenti merengek nangis. Padahal saya udah niat banget mau ngajak pulang kalo emang situasinya malah tambah ribet.

Saat saya perhatikan kakak mulai diam, saya tawari untuk makan lagi.

"Kakak, mau makan?"

"Iyaa" akhirnya bersuara 😄

"Makan nasi, ayam goreng dan santan kayak punya bunda?

"Tidak mau"

"Kalau begitu mau makan apa?"

Diam.

"Kuah sup mau?" tiba-tiba Oma Uci, ipar dari omanya bertanya.

"Iya mau" kata kakak

Alhamdulillah, akhirnya kakak mau makan juga walaupun maunya kuah sup doang.

Dan akhirnya, kuah sup yang dimakan, wortelnya aja, ayam, kentang dan lainnya disisakan 😁

Tak apalah, bagi saya itu sudah sangat cukup, daripada ngerengek terus, memilih mogok makan, mogok bersuara, setidaknya dia masih bisa memperlihatkan rasa sukanya terhadap wortel sama sekali gak hilang walaupun tenggorokannya lagi ga enak 😍


#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Thursday, 2 February 2017

Day 4 Failed


Jadi ceritanya, kakak nangis karena tidak diizinkan untuk ada di luar rumah lagi pada jam setengah 9 malam ini. Dia keukeh mau ikutan duduk santai bareng Opanya di warung depan. Kebetulan warung depan rumah menyediakan space untuk sekedar nongkrong, ngopi dan diskusi bapak-bapak kompleks perumahan ini.

Berhubung lagi di rumah mertua, emosi kakak kadang susah dikendalikan. Ini karena ada Opa yang sangat memanjakan kakak dan menjadi pembelanya saat ia tidak mau mematuhi beberapa peraturan yang telah kami sepakati sebelumnya. Seperti jam tidur malam pukul 09.00 dan sudah harus prepare bed time satu atau setengah jam sebelumnya.

Dan komunikasi produktif untuk kakak malam inipun FAILED. Karena saya sedang meninabobokan si adek, maka saya tidak bisa langsung ikut membujuk kakak masuk ke dalam rumah. Saya meminta pak  suami yang turun langsung mengeksekusi kakak 😄

Selain karena sedang mengeloni adiknya, sayapun tidak enak hati jika harus berhadapan langsung melarang kakak untuk tidak ikut nongki bersama Opanya selarut itu.

Walhasil kakak nangis kejer dan berteriak marah, tidak ingin masuk ke dalam rumah. Apapun bujukan dan rayuan yang dikatakan Ayahnya, tidak mau ia dengarkan. Sampai akhirnya ia meronta-ronta dan sempat melayangkan sebuah pukulan saat dipeluk paksa Ayahnya untuk masuk.

Setibanya di kamar, seperti biasa, saya pasti akan bertanya "kakak kenapa?" Berusaha untuk mendengarkan perasaannya terlebih dahulu agar bisa ikut merasakan emosinya, tentunya dengan menunggu sebentar saat tangisannya mulai sedikit reda.

Dan dari ceritanya, sebenarnya saat Ayah mulai memaksanya masuk, ia masih ingin dibujuk oleh Opanya untuk sebentar saja berada disitu, dan nanti setelah itu, Opa akan langsung membawanya masuk ke dalam lagi.

Jadiii komunikasi produktif malam ini dinyatakan gagal, karena mungkin saat meminta kakak untuk masuk dan kakak banyak melakukan perlawanan, memaksa Pak suami untuk bertindak tegas tanpa berusaha bernegosiasi lagi menuruti keinginan terakhir kakak.

Dan di video ini, saya meminta kakak untuk meminta maaf langsung ke Ayahnya. Tapi sebelumnya Ayah sudah terlebih dulu meminta maaf ke kakak. Bahkan setelah mengantar kakak ke kamar, Ayah sempat meredakan emosinya sendiri dengan mencuci muka dan meminum segelas air 😂
Yes i know u well pak suami, saya tau dirimu sebenarnya tidak akan setega itu memaksa kakak dengan sebegitu kerasnya malam ini 😆



Terkadang hidup tidak akan selalu sejalan dengan apa yang kita impikan, sedikit keluar dari jalannya, membuat kita belajar proses mengejar impian.




#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip
#ceritainka